Mekah- Saudi Arabiyah -Di tengah pelaksanaan ibadah haji tahun 2026 M./1447 H. di Kota Suci Makkah, Afifuddin menjalankan tugas pengabdian sebagai Musyrif Diny dengan penuh dedikasi melalui pembinaan, pembimbingan, dan konsultasi ibadah bagi jamaah haji Indonesia.
Sebagai Musyrif Diny, Prof. Afifuddin memberikan pendampingan keagamaan kepada jamaah agar mampu melaksanakan seluruh rangkaian ibadah haji sesuai tuntunan syariat, sekaligus membantu menjawab berbagai persoalan fikih yang dihadapi jamaah selama berada di Tanah Suci. Pembinaan tersebut diarahkan untuk mewujudkan haji yang tidak hanya sah secara ritual, tetapi juga melahirkan perubahan diri menuju pribadi yang lebih baik.
Dalam berbagai kesempatan pembinaan, beliau menekankan pentingnya orientasi “Tiga Sukses Haji” sebagai paradigma dalam penyelenggaraan dan pelaksanaan ibadah haji.
Pertama, Sukses Ritual, yaitu memastikan seluruh rangkaian ibadah haji terlaksana dengan baik sehingga ibadah menjadi sah, berjalan lancar, dan mengantarkan jamaah meraih predikat haji mabrur. Menurutnya, pemahaman manasik yang benar, kedisiplinan, serta kepatuhan terhadap bimbingan menjadi kunci utama keberhasilan ritual haji.
Kedua, Sukses Keadaban, yakni terbentuknya kesadaran moral dan etika sosial setelah menunaikan ibadah haji. Haji tidak boleh berhenti pada simbol dan gelar semata, tetapi harus melahirkan pribadi yang lebih jujur, santun, peduli terhadap sesama, serta mampu menjadi teladan dalam kehidupan bermasyarakat sebagai manifestasi nilai-nilai peradaban Islam.
“Haji mabrur ditandai dengan perubahan akhlak. Sepulang dari Tanah Suci, jamaah diharapkan menjadi agen kebaikan, perekat persaudaraan, dan penggerak kemaslahatan di tengah masyarakat,” ungkapnya.
Ketiga, Sukses Ekosistem, yaitu terbangunnya kesadaran umat agar aktivitas keuangan dan ekonomi yang berkaitan dengan penyelenggaraan ibadah haji maupun kehidupan pascahaji berjalan pada jalur yang prosedural, terpercaya, dan akuntabel. Dengan demikian, semangat ibadah juga berdampak pada tumbuhnya budaya ekonomi yang amanah dan bertanggung jawab.
Menurut Prof. Afifuddin, ketiga dimensi tersebut saling melengkapi. Keberhasilan haji bukan hanya diukur dari tuntasnya pelaksanaan rukun dan wajib haji, tetapi juga dari perubahan perilaku serta kontribusi nyata jamaah dalam membangun kehidupan sosial yang lebih beradab dan ekosistem umat yang sehat.
Pengabdian yang dijalankan Prof. K.H. Afifuddin sebagai Musyrif Diny menjadi bagian dari ikhtiar menghadirkan pelayanan keagamaan yang edukatif, humanis, dan solutif bagi jamaah haji Indonesia. Melalui pembinaan yang berkesinambungan, diharapkan para jamaah dapat kembali ke tanah air dengan membawa nilai-nilai spiritual yang menguatkan, kesehatan yang terjaga, serta komitmen untuk mengamalkan kemabruran dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan semangat “Haji Mabrur, Sehat, dan Berkeadaban,” pelaksanaan ibadah haji diharapkan tidak hanya menjadi perjalanan spiritual individual, tetapi juga melahirkan transformasi sosial yang memberi manfaat luas bagi umat, bangsa, dan peradaban.