Terkadang kita merinding dan terharu bahkan tak terasa sampai meneteskan air mata ketika mendengar alunan suara azan yang syahdu, tetapi ada pula saat kita mendengar suara azan biasa biasa saja dan tanpa kesan sama sekali. Mengapa impresinya berbeda padahal sama-sama suara azan? Tentunya selain alasan teologis dan kondisi kejiwaan, juga terkait dengan unsur musikalitas, pengucapan, warna suara, resonansi dll. Terlalu keras pasti tidak enak didengar karena pendengaran kita punya batas kemampuan menerima suara.
Semua suara yang melewati pengeras suara pasti berpotensi menimbulkan kebisingan, termasuk suara azan. Itulah makanya di beberapa Negara yang notabene Islam, suara azan dari mesjid diatur, seperti di Arab Saudi, Mesir, Bahrain dan Uni Emirat. Sementara di Indonesia telah terbit surat edaran yang sifatnya optional edukatif bisa diikuti bisa tidak, yang diminta adalah rasa bijak dan tenggang rasa terutama di pemukiman multi agama dan etnik.
Saya yakin di kalangan Islam sendiri banyak yang tidak suka dengan suara azan yang terlalu keras dari pengeras suara, bukan karena azannya tapi karena bisingnya. Belum lagi jika suara muazinnya sember atau fals. Hanya karena alasan teologis sehingga seolah-olah suka, apalagi suara azan dianggap bagian dari syiar bahkan pengusir setan.
Tapi tampaknya yang jadi trending justru gonggongan anjing. Seandainya yang dijadikan analogi adalah kokok ayam atau pertengkaran kucing mungkin akan lain responnya. Ini karena pada pilihan kata atau diksi "anjing" terdapat unsur teologis yang menganggap anjing sebagai najis, dan juga mengandung unsur sarkasme karena diksi anjing sering digunakan untuk mengejek.
Sebenarnya kalau melihat konteksnya, bukan suara azan yang dibandingkan dengan suara anjing, tetapi suara bising yang melalui TOA dibandingkan dengan suara bising gonggongan anjing secara serentak. Barangkali pak Mentri terlalu bersemangat, atau lagi curhat karena mungkin punya pengalaman pernah tinggal di kompleks yg banyak anjingnya sehingga kurang menyadarinya dalam memberikan analogi, sampai-sampai menimbulkan kebisingan lain.